PERNIKAHAN = JUAL BELI, COD - TUNAI - TRANSFER ?
Penulis : RUKMANASARI
PERNIKAHAN = JUAL BELI
Ketika ditanya tentang pernikahan maka yang pertama muncul di benak biasanya tentang 2 sejoli yang jatuh cinta lalu menguatkan cinta mereka dengan restu dua keluarga melalui pernikahan.
Pernikahan adalah hal yang sangat sakral dan spesial terutama bagi kaum wanita. Kaum wanita selalu mendambakan pernikahan yang awal, tengah, dan akhirnya penuh dengan kebahagiaan.
Dalam pernikahan ada yang namanya MAHAR dan UANG BELANJA (Uang Panai' dalam suku Bugis-Makassar). Mahar bisa berupa emas dan tanah yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai wanita (mahar ini hak paten istri). Adapun uang Panai' berupa uang tunai dari pihak mempelai laki-laki kepada pihak mempelai wanita sesuai dengan jumlah yang telah disepakati sebelumnya.
Ayat Al-Quran tentang Mahar:
Jadi, dalam terjemahan surat An-Nisa (4:4) di atas bahwasannya mahar itu harus di berikan saat menikahi perempuan dan apabila perempuan yang dinikahi mengembalikan sebagian dengan ikhlas maka itu boleh saja di ambil.
Seperti pula dalam pemaknaan atas terjemahan hadis di atas agar untuk tetap menunaikan mahar, bila sulit menghadirkan maka bisa juga dengan berupa cincin besi (bukan emas).
Hadis tentang Mahar Berupa Hafalan Al-AlQur'an :
Selain hanya sebuah cincin yang berbahan besi saja, bahkan hanya dengan hafalan Alquran. Sebagaimana seorang lelaki yang tidak punya harta lantas di nikahkan oleh rasulullah dengan mahar berupa beberapa surah yang di hafalnya dari alquran.
Adanya mahar dan uang Panai' membuat sebagian besar laki-laki menganggap bahwa wanita yang dinikahi nya sudah ia beli dari orang tua dan keluarganya sehingga banyak suami yang berbuat seenaknya tanpa mempedulikan perasaan istrinya dan tidak sedikit wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga baik secara fisik maupun emosional sehingga terjadilah keretakan.
REKOMENDASI : SOMBONG ONLINE - Medsos Peretak Silaturrahim
Banyak faktor yang menyebabkan keretakan sebuah rumah tangga, di antaranya ekonomi, kurangnya ilmu pengetahuan rumah tangga, tidak adanya keturunan, dan banyaknya campur tangan orang luar.
Namun, ada beberapa rumah tangga tetap utuh meski dalam keadaan ekonomi sulit. Mereka tetap bahu-membahu dan berpegangan tangan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Kurangnya ilmu pengetahuan rumah tangga terutama tentang tugas dan tanggung jawab suami-istri menjadi salah satu penyebab terbesar terjadinya keretakan. Suami menganggap tugasnya hanya mencari nafkah materi (uang) di luar rumah. Urusan rumah dan anak adalah tugas dan tanggung jawab istri. Bahkan tidak sedikit suami yang menganggap bahwa istri yang di rumah saja itu tidak bekerja karena tidak menghasilkan uang dan menganggap dirinya lelah setelah seharian bekerja dan tidak memiliki waktu dan tenaga untuk melakukan sesuatu yang tidak berkaitan dengan tanggung jawabnya.
Padahal tidak ada ayat maupun hadis yang menerangkan bahwa istri bertanggung jawab penuh atas rumah dan anak. Hal ini hanya budaya patriarki yang diwariskan dari nenek moyang.
Namun, mirisnya tidak sedikit suami yang paham agama yang diwarnai kental oleh budaya patriarki pun melakukan hal yang serupa. Mereka paham ilmunya namun pengaplikasiannya nihil. Dan yang lebih menyedihkan apakah laki-laki dan wanita yang siap menikah itu sudah dibekali ilmu pengetahuan rumah tangga?
Dalam sebuah rumah tangga, biasanya yang merasakan kepahitan hanyalah istri. Istri yang mengalami tekanan fisik dan emosional biasanya tidak bisa menjalani hari-harinya dengan baik. Olehnya itu, dikatakan kalau ingin anakmu tumbuh sehat dan bahagia maka bahagiakan lah istrimu. Itu bukan sekedar nasihat. Karena faktanya istri yang tertekan tidak bisa tersenyum indah, tidak bisa tertawa lepas, dan kemungkinan besar anaknya yang akan menjadi pelampiasan. Intinya, kelelahan membuat seseorang tidak dapat mengelola emosi dengan baik.
TUGAS PASCA PERNIKAHAN
Masyarakat pada umumnya dan para suami pada khususnya menganggap bahwa tugas memasak, mencuci pakaian dan peralatan, menjaga kebersihan rumah, mengasuh dan mendidik anak, dan lain-lain adalah tugas dan tanggung jawab penuh seorang istri. Sehingga tidak sedikit suami yang mau turun tangan membantu meringankan pekerjaan rumah. Dan pemikiran primitif suami biasanya didukung oleh masyarakat sekitar dan keluarga pihak laki-laki karena sudah mendarah daging di mata mereka.
Wanita yang bekerja di luar rumah dianggap tidak becus menjaga dan mengurus anak, suami, dan rumah karena terlalu sibuk di luar. Sedangkan wanita yang hanya bekerja di rumah dianggap sebagai beban karena tidak menghasilkan rupiah.
Beberapa kasus rumah tangga yang retak anak yang menjadi korban baik kehilangan cinta dan kehangatan keluarga juga kehilangan panutan dalam hidup sehingga banyak anak broken home yang kehilangan arah dan tujuan hidup. Bagi mereka yang memiliki bekal ilmu agama dan mental stabil biasanya tetap bisa menjalani hidup dengan waras. Namun, tidak sedikit yang kurang beruntung menghabiskan hidup mereka dalam jalan instant yang menyesatkan seperti kenakalan remaja, judi, narkoba, pergaulan bebas, dan lain-lain.
9 dari 10 wanita yang sudah menikah mendambakan momongan (anak). Namun tidak semua wanita beruntung mendapatkan anak dari rahim mereka sendiri disebabkan berbagai faktor. Anak adalah satu kunci perekat hubungan suami-istri. Tapi, masih banyak rumah yang tangga yang retak meski sudah memiliki 2-3 anak.
Seorang teman pernah mendengar seorang bidan berkata bahwa ahwa tidak ada seorang pun wanita yang mandul. Apabila ia tidak memiliki anak, maka yang harus periksa adalah suaminya. Akan tetapi, masyarakat akan selalu menyalahkan wanita akan ketiadaan anak dalam sebuah rumah tangga. Padahal istri tidak memiliki wewenang untuk membuat anak itu menjadi ada apabila Tuhan belum menghendaki. Lantas masihkah disalahkan istri yang belum bisa memiliki anak ?
Setelah sekian lama menikah, pesona istri semakin pudar apabila suaminya tidak pandai merawatnya. Istri ibarat kebun, apabila dirawat dengan baik ia akan menjadi pemandangan yang indah mempesona. Sebaliknya, apabila kebun itu dibiarkan gersang maka tunggulah kebun orang lain akan terlihat lebih hijau.
CARA MERAWAT ISTRI
Salah satu cara merawat istri adalah dengan membantu meringankan pekerjaan rumah tangga baik diminta atau pun tanpa diminta oleh sang istri. Selain itu, berikan pupuk terbaik yakni kebutuhan dan perawatan terbaik maka kebunmu akan menjadi jauh lebih hijau dibanding kebun tetangga. Akan tetapi, laki-laki suka memandang yang indah-indah tapi tidak mampu memberikan perawatan terbaik untuk istrinya dan selalu mengatakan dengan entengnya, banyak perempuan yang bisa cantik tanpa modal. Perkataan dan pemikiran ini hanya dikeluarkan oleh laki-laki yang kere. Laki-laki yang realistis sangat paham tentang kebutuhan wanita agar tetap menjadi mekar sepanjang musim.
Sebelum menikah dan punya anak, semua wanita itu cantik dengan ciri khasnya masing-masing. Dia bisa tersenyum indah, melangkah dengan riang, dan tertawa lepas karena itu engkau wahai laki-laki tertarik meminangnya. Namun setelah menikah, pesonanya memudar karena disibukkan oleh pekerjaan rumah yang tidak ada habisnya apalagi kalau dia memiliki anak kecil yang butuh perhatian penuh. Sehingga dia pun tak ada waktu untuk berdandan, syukur kalau bisa mandi dengan tenang. Parfumnya berupa aroma bawang yang bercampur keringat. Namun, selama suami menghargai nya ia akan menjalani tanpa protes panjang mungkin hanya sedikit keluhan
Comments
Post a Comment